Follow Me @nilamodang

Monday, 16 July 2018

Your Value is Greater than Bridesmaid Hampers, Sahabat

11:14 0 Comments
Sebelum kita bahas tentang pros and cons bridesmaid hampers, yuk kita kulik dulu sejarahnya! Sejarahnya ini aku dapat di Wolipop. Artikelnya sudah aku copy-kan di bawah yaa

Menghadirkan bridesmaid atau pengiring pengantin wanita sudah menjadi tradisi dalam pernikahan. Kebiasaan tersebut juga banyak diadopsi tak sedikit pasangan di Indonesia. Umumnya para bridesmaid memakai baju dengan warna yang sama sehingga terlihat kompak saat hari bahagia sahabat atau keluarganya.

Tradisi tersebut ternyata memiliki sejarahnya sendiri. Adanya pengiring pengantin berasal dari era Romawi kuno ketika pesta perayaan pernikahan mulai populer. Kala itu, mereka tidak hanya diwajibkan untuk memakai busana serupa dengan sesama bridemaids namun juga sang pengantin.

Mereka hadir di altar dengan tampilan yang hampir serupa. Tujuannya kala itu bukan untuk memberikan dukungan untuk sahabat dan anggota keluarga terdekat. Para pengiring berpakaian sama tersebut ternyata dimaksudkan untuk menjadi umpan untuk mengusir setan.

Zaman dahulu ternyata para pengantin tidak hanya dipusingkan dengan biaya atau konsep pernikahan. Kedua mempelai juga harus mengkhawatirkan kedatangan roh-roh jahat di hari bahagia mereka. Untuk itu, pengiring pengantin pria dan wanita dihadirkan untuk mengusir setan dan kemarahan.

Demi keselamatan pasangan, mereka pun berbusana kompak. Dengan begitu, diharapkan roh-roh jahat akan bingung dengan waktu yang lama sehingga kedua mempelai bisa sampai mengucapkan janji pernikahan.

Ancaman kedatangan roh-roh jahat pun mulai luntur di era Victoria. Para pengiring pengatin pria dan wanita mulai melepaskan protokol dan mengalternatifkan busana dengan pengantin. Mereka juga sering berpakaian lebih rumit dari pada mempelai itu sendiri.


Dari artikel di atas, kita bisa ambil poin-poinnya nih.
1. Bridesmaid diwajibkan untuk memakai busana serupa dengan sesama bridesmaid, namun juga sang pengantin
sebagai orang minang, pastinya kita punya pride dong. biasanya nih, orang minang kalo resepsi pasti pake baju tradisional minang, walaupun sekarang sudah banyak yang memadukan tradisi dengan modern sih. biasanya juga untuk perempuan minang, ogah memakai pakaian berwarna merah serupa dengan pakaian saat resepsi. alasannya? once in a lifetime moment hehe

2. Mereka hadir di altar untuk mengiringi
biasanya nih, kalo pernikahan minang yang mengiringi itu the mamas and the papas serta sanak famili, bukan sahabat.

3. Mengkhawatirkan kehadiran roh-roh jahat
my readers agree that this statement only a myth, right?

sekarang kita bahas nih masalah bridesmaid hampers yang lagi jadi trend di indonesia...

aku pribadi baru tau ada trend semacam ini sejak tahun 2016. mungkin sebelumnya juga sudah ada, tapi karena teman-teman sebaya baru mulai banyak menikah di tahun tersebut, jadinya aku baru ngeh. pas awal-awal munculnya trend ini, jujur aku pun ingin jadi bridesmaid dan ingin di pernikahanku nanti teman-temanku (ga cuma bridesmaid tapi juga best man) juga menggunakan seragam yang aku berikan.

setelah bertunangan, aku mulai nge-list siapa aja nih yang bakal jadi bridesmaid dan bestman ku. totalnya ada sekitar dua puluhan orang. aku mulai cari referensi di instagram. kira-kira jenis kain apa yang akan aku jadikan bridesmaid dan bestman hampers.

waktu mama mulai ke pasar beli kain seragaman untuk keluarga inti, aku diam-diam juga mulai survey. kain jenis A harganya berapa, kain jenis B harganya berapa. aku mulai membayangkan bridesmaid ku harus pake gaun atau setelan yang lebih klasik dan bestman ku akan pake batik atau jas.

oke, kenapa diam-diam? karena kalo mama tau pasti aku diprotes. secara keluarga besarku memang besar banget. kenapa ga sepupu-sepupu aja yang dibeliin. kira-kira gitu omelan mama nantinya.

kemudian, ada beberapa hal yang membuat aku benar-benar ngebatalin bridesmaid dan bestman hampers, di antaranya:

1. muncul thread temen-temen yang udah keseringan jadi bridesmaid. mereka mempermasalahkan ongkos jahit seragam bridesmaid. hmmm, aku pernah jadi bridesmaid sekali dan ngeluarin duit 200.000 - 500.000 buat itu memang agak berat sih. kebayang ga kalo misalnya dalam sebulan, kita dapat lebih dari 2 seragam bridesmaid? beberapa kebutuhan dan keinginan kita untuk membeli sesuatu jadi tertunda karena ngerasa ga enak dengan bride-soon-to-be.

2. kepikiran sama omelan mama kalo tau aku beliin seragam buat teman-teman. ya, aku memang tipikal orang yang lebih mementingkan keluarga, meskipun quotes "teman adalah keluarga yang kamu pilih sendiri" bertebaran, aku tetap ga bisa nerima sepenuhnya.

3. orang yang ga deket nih, yang ga jadi kategori sahabat bagi aku, tiba-tiba dateng minta seragam. ini sih yang agak konyol. lo dateng kalo ada maunya aja, terus lo mengkategorikan diri lo sebagai sahabat? ini maksudnya gimana ya hehe

4. selera orang beda-beda sis. bisa jadi menurutku kain yang aku pilihkan udah yang paling bagus  dan sesuai dengan budgetku, tapi ternyata teman yang aku berikan kain itu ga suka. jadinya mereka terpaksa ngeupahin kainnya, terpaksa makenya, dan cuma kepake sekali terus ga tau deh nasib bajunya nanti gimana. kasian sis, udah bikin temen kesel, mubazir pula.

5. undangan yang aku cetak to be honest ada 750 undangan. lebih dari 700 itu undangan orang tuaku. sekitar 30 undangan sudah dijatahkan untuk teman kantor calon suamiku. makin hari, tambahan list undangan orang tua ada aja yang nambah. belum lagi undangan buat tamu adekku. kebayang kan berapa sisa undangan buat teman-temanku? sekitar 10 undangan buat rekan kerjaku, which is bapak-bapak dan ibu-ibu. selebihnya pasti teman sebayaku. dengan jumlah undanganku yang sedikit, rasanya ga adil buat teman-teman yang hadir tapi ga kebagian bridesmaid hampers. kebayang ga kalo mereka berkecil hati? kebayang ga kalo kita inginnya bersenang senang dan bersyukur di acara resepsi pernikahanku tapi ada yang kesel gara gara perkara seragaman?

lima poin utama itulah yang bikin aku ngebatalin beli seragam. mending aku diomongin temen deh ga ngasih seragaman daripada diomongin sepupu-sepupu. kebayang kan kalo dibilang "orang lain dikasih seragam, sodara sendiri ga dikasih"

setelah alasan pribadi yang aku beberkan di atas, it's okay kalo ada yang tidak setuju. namanya juga opini, kan? di sini aku cuma menegaskan bawah nilai para sahabat itu jauh lebih besar berkali-kali lipat dibandingkan bridesmaid hampers. iya, hampers itu memang jadi sebuah penghargaan ke sahabat. tapi balik lagi, walaupun niat bride-soon-to-be nya baik, tapi poin no. 4 bikin yang nerima ga ikhlas, niat kita tadi jatohnya gimana?

oya, dan satu lagi buat teman-teman. jangan berkecil hati. kalian tetap berharga kok buat aku. malah sebenarnya kalian sudah diringankan untuk tidak mengeluarkan upah jahit yang seyogyanya bisa kalian gunakan untuk keperluan lain. terus kalo ada yang nanya, kok ga diselipin aja duit upah jahit di bridesmaid hampersnya? ini jawabanku: aku bukan orang tajir melintir beb :(

masalah deklarasi aku tidak jadi memberikan hampers, menuai pro dan kontra kok. yang pro tentu saja yang udah keseringan jadi bridesmaid dan ngeluarin upah jahit, yang pernah kain yang di dapat ga sesuai seleranya, dan yang menganggap seragam bridesmaid bukan suatu hal yang krusial.

yang kontra? ada juga...
katanya "itu kan acara sekali seumur hidup, anak pertama pula.." justru karena sekali seumur hidup itu, mendingan kita sama-sama happy datang ke resepsi nikahanku, tidak ada yang iri, tidak ada yang kesel udah habis banyak.

ini juga yang bikin aku speechless sih...
belum ada kain yang sampai, belum ada juga alasan untuk berangkat

karena statement yang seperi itu, aku ingin berkali-kali menegaskan value dirimu sendiri dan persahabatan kita jauh lebih besar dari bridesmaid hampers atau sepotong kain. semua sahabat, semua bersenang-senang.

Saturday, 16 September 2017

Begin Again

21:16 0 Comments
And it comes the time when you dont want to trust anybody but yourself again. It hurts you know, when you put your trust on someone, you laid happiness on them, and all that they ever do is break your happiness into a million pieces.

And then it comes the time when i saw their face, i think about another stranger. I feel like i never know them. How could i was with them?


How?

Wednesday, 6 September 2017

Dany Juhandi

14:44 0 Comments
That night (Sept 5th), i was asking Pak Dan about what we wore in our very first met. But suddenly the call ended before i get his answer because the paketan nelfon habis (yha, that's a problem of LDR life).

You know, i like to flashback things which happened in my life. To remember myself to always be grateful in what i have today.

And pak dan, this is the document that i have before i met you. I wore this dark gray cardigan, black jeans, and sandals. And you wore short pants (not a kind that used by cabe cabean), jacket (i forget it was jeans, light gray, or dark gray). It was March 9th, 2016. After we saw solar eclipse in different places.



And today, i'm so grateful that a year right after that day you're mine. Sounds cheesy, right? But i'm more cheesy when i remember we're going to meet in the end of the year. TEARSSSS. MASIH LAMA.

I recall this. We've not talking about funny things and flashback after a long time. You're too busy with your job. Talking non sense like "i'm tired" or "i have so many tasks that never done". The words that i dont like that much but i keep listening to them because i want you to know that i'll always be there for you even in your hardest day. Yes, i do and i will.

Life is never easy, i know. But that's how to achieve "the next level" of our lives. You said "kamu ga tau gimana pahitnya hidup aku". I know, even i've never been there. When you told me about your life story, i dont want you to carry it alone. I want you to share it with me. To share how tough your life is. And i'm a proud girlfriend because you're the most passionate man i've ever known. You're passionate in what you have, in what you'll achieve, and it's so unstoppable. And i want to be unstoppable with you in a lot of ways.

I wont stop telling you that i'm so grateful and thankful to have you. Let's walk into infinity step. Just me and you. And our future children.

Monday, 31 July 2017

19:40 0 Comments
do you know what is the worst part of being in a long distance relationship?

YES.
when you miss your spouse but your spouse doesnt even there.
when you need your spouse but your spouse is busy.
when you want your spouse to be around you but it's just in your imagination.
when you want to be understood by your spouse but you feel your spouse does not.
when you want to talk too much about your today's experience but in the end you only listen to him.
when you think that today's conversation is not enough yet but your spouse already says good night.
when you want to meet your spouse but you dont even know when will your meeting will be happened again.

when you finally miss talking to him with no barrier,
seeing him laugh directly,
laying down on his arm,
feeling his touch,
smelling his smell.

and the cure is too far away.

Monday, 24 July 2017

08:04 0 Comments
pertemuan denganmu selalu saja singkat. jika dikategorikan tidak puas, ya karena manusia selalu tidak puas kan? tapi, setiap pertemuan singkat itu kita selalu berusaha untuk memaksimalkannya kan?

aku selalu tersenyum malu setiap pertama kali aku melihatmu. entah itu di arrival gate di bandara atau di eskalator mall. melihatmu dari jauh saja sudah membuatku senang, tak terbayang kan bagaimana bahagianya aku setiap kali menghabiskan waktu denganmu?

kamu juga tidak tahu ada perasaan nyaman yang muncul ketika kamu memegang tanganku. entah itu hanya ketika kita sedang nonton di bioskop atau ketika kita menyeberang menuju parkiran.

kamu juga tidak tahu aku lebih senang menghabiskan waktu berdua saja denganmu, tanpa ada orang lain di sekitar kita. kenapa? karena aku bisa melihatmu untukku saja.

kemudian kita sekarang harus berpisah lagi. anggap saja jarak adalah ujian. kenapa ujian? karena tiap kali menghadapi ujian selalu menjadikan kita pribadi yang berusaha untuk melewatinya kan? jarak itu ujian menjaga komunikasi. jarak itu ujian menjaga kemesraan. jarak itu ujian menjaga kepercayaan. jarak itu ujian menjaga ingatan bahwa "akan selalu ada yang menunggumu pulang". and the list of the exam we take goes on.

aku tak akan lupa bagaimana bibirmu tersenyum ketika melihatku
aku juga tak akan lupa bagaimana matamu melihat aku
dan aku juga tak akan lupa bagaimana kita mencuri peluk cium di ruang tamu tanpa ketahuan orang tuaku karena sadar esok kita tak bersama lagi.

aku takkan pernah berhenti bersyukur karena Tuhan sudah mengirimmu untukku
aku takkan pernah berhenti berjuang untuk menjadikan aku dan kamu satu
aku juga takkan pernah berhenti mengingatkanmu bahwa kamu punya aku dan selalu bisa diandalkan pada kondisi apapun

terima kasih sudah pulang kembali. aku belum sempat mengucapkan itu kepadamu. sampai jumpa lagi hingga waktu yang tidak ditentukan. baik-baik ya. kamu cuma perlu tahu bahwa aku mencintaimu.

Thursday, 13 July 2017

09:54 0 Comments
tujuannya memang hanya 100 meter
ujungnya terlihat jelas di depan mata
tak salah jika ia menggebu untuk mencapai finish
hasratnya tak sabar ingin merasa apa yang ada di sana
di garis finish, tenaga terkuras
tapi ia puas

berbeda jika tujuannya berjuta kilometer di depan
tak terlihat ujungnya
yang ia tahu, pelan, pelan, pelan, asal sampai tujuan
penat datang, jenuh hinggap
batin mengeluh saking jauhnya
jika ia menyerah, bagaimana?



Padang, 13 Juli 2017

Wednesday, 10 May 2017

Pertemuan dengan Jodoh Itu Memang Tak Disangka-sangka!

15:23 0 Comments
and then my soul saw you, and it kind of went "oh, there you are. i've been looking for you. -- unknown.
it's funny when i found out there are sooooo many possibilities to meet aa in the past.

aku sama aa itu sering kuliah di gedung perkuliahan yang sama di Unand. Gedung B. Gedung B yang seuprit itu, dan aku yang sering banget datang jam 7 pagi sebelum kuliah jam 8. aku yang sering banget duduk di tangga Gedung B. aku yang sering duduk di Gazebo gedung B. dan aku tidak pernah melihat sosok aa selama 3,5 tahun kuliah di sana. pasti pernah aku berpapasan dengan dia, tapi aku yang tidak pernah peduli dengan sekitar.

aku sama aa itu sama-sama wisuda di periode yang sama. Wisuda 1 2014. Dia lulusan terbaik. Sekurang-kurangnya aku bertemu dengan dia saat gladi resik. Tapi aku tidak tahu. Aku tidak pernah sadar.

aku sama aa itu sama-sama les TOEFL di tempat yang sama. di tempat yang gedenya lebih seuprit lagi dibanding Gedung B. mungkin aku pernah sit in di kelas aa. but again, i never saw him at any glance.

and then i met him up a year ago. i still not familiar with his face. i felt like never known him before. dan sekarang, dia calon suamiku. insya Allah. aamiin.

Tuesday, 2 May 2017

Calon Saya, Pak

07:46 0 Comments
Sering kali ada pertayaan dari atasannya mengenai calon pendamping hidup aa. Iya, aku memanggilnya aa karena dia lelaki keturunan Sunda. Panggilan by request dari aa soalnya aku lebih senang memanggil seseorang dengan sebutan yang dia senangi. Di samping itu, aku juga dapat pahala. Hehe.

Kembali lagi ke pertanyaan si calon pendamping hidup aa. Jawaban yang aa lontarkan kepada atasannya merujuk kepadaku. Tentu saja aku selalu merasa senang setiap kali dia memperkenalkanku kepada orang lain sebagai calon saya. Bukan pacar saya.

Tapi ternyata, aku menemukan sedikit beban untuk sebutan itu meskipun tentu saja rasa senang dan bangga lebih mendominasi. Aku tahu dan sadar bahwa kami menjalani hubungan ini dengan basis serius. Namun, menurutku selamanya rasa tidak siap itu akan muncul sebelum memulai suatu tahap baru dalam kehidupan.

Mamaku sudah menceritakan tentang aa ke keluarga besarku di Jogja. Entahlah. Terkadang itu cukup membebaniku. Perihal karena aku tidak tahu dengan masa depan. Aku cukup takut jika pada akhirnya aa bukan jodohku. Tapi di sisi lain, aku merasa bahwa hubunganku dengan aa banyak yang mendoakan.

Being a wife is about taking care of a man who's been taken care by the best woman in his life. I'm afraid i cant take care of him as good as mamah taken care of him.

Ketakutanku lebih ke kesiapan diriku sendiri. Aku takut aku tidak bisa memenuhi setiap kebutuhan aa. I'd be his life servant for the rest of his life. I'd be his life partner in a lifetime. I'd be a mother for his kids. Am i ready? I should be ready, i know. But, i've never been at that stage before. So i dont exactly know the answer.

Ketidaksiapan itu juga muncul ketika aa meminta izin kepada papah untuk menikah. Ada satu pertanyaan yang membebani pikiranku. Bisakah aku memenuhi kriteria aa dalam mengurusnya nanti?

Sejauh ini, aku memang tidak menemukan titik dimana aa tidak serius denganku, dengan hubungan kami. Dan aku bersyukur akan hal itu. Ketakutan hanya ada pada diriku. Dan menurutku ketakutan ini akan muncul ketika seorang wanita akan menikah.

Aku juga masih mencari alasan tentang keyakinan untuk menikah. Point-nya adalah kapan kamu yakin bahwa itu adalah benar-benar kesiapan untuk menikah, bukan karena nafsu atas keinginanmu untuk menikah.

Aa dengan keyakinan dan keseriusannya kepadaku seharusnya tidak boleh membuatku merasa tidak siap seperti ini. Dia sudah memercayakan kepadaku dan aku harus membalasnya dengan memberikan yang terbaik untuknya. Iya, untuk dia yang selalu memperkenalkanku dengan sebutan calon saya.

Ah, doakan saja ya. Aku mohon doa yang terbaik untuk aku dan aa. Semoga rencana dan ketetapan Allah sejalan dengan rencana kami. Aamiin.

Saturday, 29 April 2017

Allah Bekerja Baik, Ia Memberi Lebih

07:17 0 Comments
Jika kebanyakan orang di Indonesia mengatakan bahwa kota yang paling romantis di Indonesia ialah Bandung atau Bali, bagiku kota itu ialah Jogja. Bersama Jogja, semua kenangan tersimpan rapi. Di setiap sudutnya.

Salah satunya ialah kenangan tentang dia. Iya, tentu saja ini cerita tentang dia.

Jujur saja, tak banyak kenangan yang tersimpan rapi di Jogja dengannya. Hanya pertemuan singkat di warung lontong sayur yang mengusung salah satu nama kota di Indonesia. Tak banyak cakap, tak banyak tawa. Hanya berkenalan, makan, bercerita sekedarnya, dan pulang.

Ia adalah teman dari temanku yang sama-sama tinggal di Sumatera Barat dan melanjutkan sekolah pascasarjana di Kampus Biru, Gadjah Mada. Waktu itu, temanku bercerita bahwa dia mempunyai seorang teman yang juga berasal dari Padang dan berniat untuk mengenalkan kami. Aku sih tidak keberatan, karena aku tak pernah menolak untuk menambah teman, apalagi sama-sama berasal dari kota yang sama dan mempunyai misi yang sama di kota rantau yang juga sama.

Perkenalan itu tanpa aba-aba. Tiba-tiba saja ada lelaki yang invite Path-ku. Aku tidak kenal dan aku pending untuk menerima undangan pertemanan itu. Selang beberapa jam, temanku memberi tahu lagi bahwa temannya itu ingin kenalan denganku. Kemudian aku memastikan bahwa yang di Path itu adalah temannya. Iya, ternyata itu temannya. Satu kata yang terlintas waktu melihat fotonya. Ganteng.

Kemudian, temanku itu meminta izin untuk share nomor handphone-ku dengan dia. Belum sempat aku melarang, ternyata nomor itu sudah di tangannya. Aku mau marah tapi ya gimana. Sudah terlanjur. Tak lama kemudian, dia menghubungiku lewat WhatsApp. Aku ladeni juga dengan senyum sumringah. Si labil memang.

Pertemuan Pertama.
Aku sudah mengambil posisi di salah satu meja di warung itu. Dengan temannya yang duduk di seberangku. Selagi menunggu kedatangannya, aku menyibukkan diri entah dengan handphone-ku atau bercakap dengan temanku ini. Iya, karena aku sedang menyembunyikan grogiku. Sebentar lagi aku bertemu dengannya. Lelaki yang difoto Path atau profil WhatsApp-nya terlihat ganteng itu.

Kami berkenalan. Kemudian dia kembali bercerita dengan teman kami itu. Mendengar dia bercerita, aku tau dia orang yang pintar dan berkeinginan keras. Semakin saja aku minder dengannya.

Pertemuan Kedua.
Masih di warung lontong sayur. Tapi kali ini lontong sayur padang. Entah apa yang membedakan lontong sayur satu kota dengan kota lain. Sama-sama ada ketupat dan sayur yang dikuah santan. Ah sudahlah, bukan itu perkaranya.

Kali ini aku lebih rileks. Sudah aku anggap teman sepertinya. Sempat aku melihat ada foto seorang perempuan di lock screen handphone-nya. Kemudian aku mbathin "ooh, dia sudah punya pacar rupanya".

Pertemuan kedua sebatas itu. Tidak ada memori lain yang terekam jelas di benakku.

Kami tak sering berkomunikasi dan bertemu kala itu. Tak banyak interaksi. Mungkin karena sama-sama sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Dia baru sering muncul sejak awal tahun 2017. Aku memang tak banyak pikir. Entah karena sifat tidak peka dan cuekku, atau memang ia hanya sekedar membunuh waktu dari jeratan pengangguran.

Sebulan setelah kelulusanku, 19 Februari 2017, ia menghubungiku lewat WhatsApp. Masih sama, aku tak banyak pikir dan mengira dia ingin mengajak bertemu karena saat itu aku sedang di Padang. Hari berganti hari, WhatsApp itu terus berlanjut. Bahkan telfon tiap malam yang jarang absen pun telfon ketika dia sedang di kantor. Panggilan pun berubah dari uda-uni-ambo, menjadi bapak-ibu, dan berganti lagi menjadi aku-kamu. Kode-kode lain dari dia yang membuat aku selalu mbathin "iki orang ngopo sih?" atau "waduh, ini orang kalo begini terus iman ku bisa goyah" .

Aku sebenarnya tau dia sedang mendekatiku. Bukan geer, tapi terlihat dari setiap gerak-gerik yang ditunjukkannya dari cara menghubungiku. Tetap saja saat itu aku masih mengelak, takut jika ternyata ia hanya sedang mempraktikkan sifatnya yang fenomenal pada masanya.

Kira-kira seminggu setelah WhatsApp dengannya yang tidak pernah putus, aku mengirimkan foto dia ke mama, juga melalui Whatsapp. Maksudku adalah untuk menanyai pendapat mama mengenai dia. Keputusanku pada saat itu ialah jika mama berpendapat negatif mengenainya, aku akan langsung menjauh. Maklum, trauma masa lalu karena menjalani hubungan dengan pria yang tidak direstui oleh orang tua.

Ajaib! Mama setuju aku dengannya hanya karena melihat fotonya. Entah apa yang terpancar di wajahnya pada foto itu sehingga mama langsung menyetujuinya. Tentu saja mama menilai dari fisiknya, dari image anak baik-baik yang terpancar dari wajahnya, dan pekerjaan dia sebagai dosen. Ah sudahlah, menurutku memang apa yang ada pada dirinya itu ialah kriteria yang selalu mama panjatkan melalui doanya kepada Allah. 

Ganteng, orang baik, sayang sama aku, bisa dibanggakan ke keluarga besar, bertanggung jawab, dan sederetan kriteria positif lain mengenai jodohku yang telah ditetapkan mama jauh-jauh hari.

Beberapa hari setelah bercerita ke mama, aku bertanya kepada temannya yang juga merupakan temanku mengenai dia. Tentu saja temannya ini menyetujui, karena notabene mereka adalah teman dekat, dan temannya ini menilai bahwa dia adalah lelaki baik-baik. Wanita baik-baik pantas untuk mendapatkan lelaki baik, katanya. Tapi aku tetap menyatakan ketakutanku untuk memulai hubungan dengan orang baru karena kejadian yang masih melekat di pikiran dan masih menyisakan luka di hati. Namun, temannya ini menyarankan untuk menjalani dengannya dulu.

Minggu berikutnya, ketika sedang di tempat gym, mama menghubungiku, menanyakan perihal keberlanjutan hubunganku dengan dia. Pertanyaanpun semakin intim, asal dari mana, bagaimana keluarganya, apa pekerjaan orang tuanya, apakah dia sudah punya pacar dan entah apalagi pertanyaan tentang keluarganya yang tentu saja tidak bisa kujelaskan dengan baik. Yang membuatku kaget adalah mama menyuruhku untuk meresmikan hubungan kami, berdoa ia adalah jodohku, dan meminta kalau bisa tahun depan kami sudah menikah.

WHAT?!

Secepat itukah mama menilai hal baik tentang dirinya dan mengizinkanku untuk menjalani hubungan ke tahap yang lebih serius dengan pria yang baru aku kenal? Tapi ya sudahlah, aku yakin dengan firasat seorang ibu.

Seminggu berikutnya, aku masih menjalani hubungan yang bisa dikategorikan semakin dekat. Kodenya untuk menjalani hal yang serius denganku semakin terasa. Bahkan di waktu sibuknya, dia masih meluangkan waktu untuk menghubungiku. Sebelum dia tertidur pulas, dia sempatkan untuk mendengar suaraku hingga akhirnya kantuk tak lagi bisa ia tahan.

Sabtu, 18 Maret 2017
Aku sedang berada di rumah sepupuku saat itu dan kebetulan kami malam mingguan. Aku bercerita kepada beliau mengenai mantanku yang disuruh putus oleh mama karena penampilannya yang urakan. Sepanjang jalan aku hanya ditertawai olehnya. Istrinya memberi petuah dan menyenangkan hatiku. Kasian ya, kalau nanti dia udah kerja, mapan, dan penampilannya udah baik, pasti mamamu mau. Kan dia orangnya baik, katanya.

Aku iyakan saja meskipun memang sudah tidak ada lagi pengharapan di diriku mengenai mantanku itu sejak dia intens menghubungiku dan menunjukkan sinyal keseriusan dengan diriku.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk bercerita kepada mereka mengenai lelaki yang sedang mendekatiku ini. Aku lihatkan foto profil WhatsApp-nya sontak uni berseru. Udah nilam, sama yang ini aja. Ganteng loh. Pasti mama nilam seneng sama yang ini. Jelaslah orang dia rapi banget gini. Mana dosen lagi!

Aku bingung. Uda juga bingung. Kurang dari tiga puluh menit yang lalu, uni menenangkanku mengenai mantanku. Kemudian setelah kuperlihatkan foto lelaki ini, mantanku langsung disingkirkan. Memang ya, wanita ga tahan kalau liat cowok ganteng. Ups!

Minggu, 19 Maret 2017
Dia menelfonku pagi itu, aku lupa apa yang kami bicarakan saking seringnya kami telfonan. Yang aku salutkan adalah dia berani menelfonku cukup lama meskipun aku sedang bersama saudaraku.

Siangnya, setelah tidur siang, aku tidak tahu mengapa tepat setelah aku terbangun, aku langsung menghubunginya via telfon. Sampai-sampai dia menanyaiku "kamu baru bangun ya? suaramu masih serak. kok langsung nelfon aku". Aku mati kutu ditanyai seperti itu bahkan aku ikutan mbathin "iya ya, kok aku nelfon dia?". Tapi aku lupa jawaban apa yang aku berikan untuk membela diri.

Pembicaraan semakin menjurus untuk menjalin hubungan denganku. Namun, aku masih tidak mau menangkap kode darinya. Hingga akhirnya dia melontarkan statement untuk minta izin masku, yang notabene adalah teman dekatnya yang memperkenalkan kami. Katanya, dia akan menghubungi masku setelah sholat maghrib.

Aku memberi tahu kepada masku bahwa dia akan menghubungimya. Aku kira hanya main-main, atau hanya sekedar meminta pendapat masku mengenai aku. Ternyata lebih dari itu. Dia memang meminta izin untuk menjalin hubungan denganku. Takjub? Iya. Aku ga berhenti senyum-senyum waktu dikirimi screen shoot oleh masku mengenai chat mereka.

Pada saat itu pula lah, aku menghubungi mama dan meminta izin untuk menjalin hubungan dengan dia. Aku menjelaskan kemungkinan keseriusan dia denganku. Dan mama mengizinkan dan merestui (calon) hubungan kami.

Setelah itu, kami kembali telfonan. Dia bertanya "kamu mau ga sama-sama memulai semuanya dari awal sama aku?". Aku di kala itu hanya senyum-senyum saja. Tak tahu jawaban apa yang seharusnya aku jawab meskipun itu hanyalah Yes or No Question. Akhirnya aku jawab "Insya Allah". 

Ia tidak puas dengan jawaban itu. Menurutnya Insya Allah di zaman sekarang lebih condong ke tidak. Aku sudah grogi dengan dia, malah di tempatkan di keadaan yang membuatku semakin grogi. Aku alihkan terus-terusan sampai akhirnya beberapa menit kemudian aku jawab "iya, insya Allah mau".

Dia masih belum puas. "mau apa?" katanya. Sumpah orang ini belum apa-apa sudah ngajak berantem. Aku masih grogi dan dia masih saja terus mendesak. "Memang jawabanku belum jelas?" batinku. Akhirnya aku jawab juga "Iya, insya Allah mau untuk sama-sama memulai semuanya dari awal sama kamu."

Sesederhana itu. Komitmen kami di awal bukanlah seperti roman picisan remaja lainnya. Karena memang usia kami bukan remaja lagi. Sudah seperempat abad. Komitmen kami adalah untuk membawa hubungan ini ke arah pernikahan, berjuang sama-sama dari awal, berbekal dengan restu yang telah diberikan oleh mamaku.

Kalau kamu tanya apakah aku bahagia, jawabannya iya. Kamu tahu? Aku sudah seperti orang yang sangat hopeless waktu itu. Sudah tidak ingin mempercayakan hatiku dengan orang lain. Sudah lelah rasanya merasakan sakit karena putus hubungan, apalagi dengan alasan yang tidak make sense.

Tapi, dia datang. Aku percaya dia datang karena doaku yang kupanjatkan waktu itu sambil bersimbah air mata. Aku percaya dia datang karena doa mama mengenai jodohku. Aku percaya dia yang terbaik yang diberikan Allah kepadaku. Meskipun terlalu dini untuk mempercayainya, i really dont find any reasons that he's not serious to me even if he's the most annoying person on Earth! 

Sesederhana itu aku mempercayai bahwa dia adalah yang terbaik untukku. Karena dia datang karena Allah di saat semua doa dipanjatkan.

Terima kasih Allah.
Terima kasih Jogja.
Terima kasih WhatsApp.

Friday, 1 August 2014

apa yang disebut skripsi

19:32 0 Comments
mungkin memang saya belum pernah merasakan sakitnya ketika ditanyakan hal ini. sudah lulus kah? skripsi nya gimana? atau hal-hal lain yang dianggap lumrah ditanyakan oleh keluarga.

beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan sepupu yang sepantaran dengan saya dan sama-sama mengambil bidang ilmu yang sama, akuntansi. dia berkata bahwa akuntansi itu susah karna susah ngerjain skripsinya.

lantas saya bingung. masih bisakah sesuatu dikatakan susah ketika kita berhasil menaklukkannya? saya kira jawaban nya tidak.

lalu kenapa skripsi dianggap susah? mungkin juga tidak bisa dikatakan susah, mungkin ada faktor-faktor lain yang menjadi penghambat penyelesaian skripsi. misalnya, dosen pembimbing, pengumpulan data, dan tingkat kemalasan.

1. dosen pembimbing
ketika permintaan mahasiswa dan penawaran dosen pembimbing tidak mencapai titik keseimbangan, disinilah masalah utama skripsi. toh yang mengetahui lebih banyak isu-isu mengenai bidang ilmu tentulah dosen sedangkan mahasiswa mengetahui secara pasti data yang akan dikumpulkan dan keadaan lapangan ketika skripsi sudah beranjak ke bab 4. 

lalu apa yang sebaiknya dilakukan? berdiskusi dengan dosen tersebut. mematahkan ego sang dosen. menjelaskan fakta yang sebenarnya. jika memang dosen masih tidak mendengarkan, temui terus hingga dosen tersebut luluh dan mengerti keadaan yang sebenarnya. jika diberi tantangan oleh dosen, terima. menurut pengalaman saya, jangan pernah sekali-kali menghindari dosen pembimbing karena akan memperlama pengerjaan skripsi.

pst, saking tak tahu dirinya saya, saya masih saja berani menemui dosen pembimbing ketika sang dosen sedang sibuk-sibuknya. tapi dengan kita yang menunjukkan kinerja yang baik bahkan untuk diri kita sendiri, maka dosen tersebut akan tergugah melihat kerja keras kita. dan ketika pengerjaan skripsi selesai, hubungan dengan dosen pembimbing masih akrab. bahkan, dosen pun akan memberikan proyek kepada kita. tau artinya apa kan? dosen tersebut percaya kepada kita :)

tapi tentu saja saran saya ini tidak bisa diterapkan untuk semua dosen pembimbing.

2. pengumpulan data
untuk teman-teman yang melaksanakan studi empiris, maka kesulitan akan terletak pada kenormalan data. ketika pengerjaan skripsi, saya mengalami beberapa kali revisi pengolahan data karena terdapatnya ketidaknormalan data dan banyaknya outliar data.

untuk yang melaksanakan studi kasus, menurut pandangan saya, usaha mereka lebih keras dibandingkan dengan teman-teman yang melaksanakan studi empiris. pengajuan proposal penelitian ke perusahaan lah, kuisioner lah, pengumpulan data lah, pengolahan data lah.

but, just believe, everything we do is worth it. percaya lah bahwa risk and return trade-offs ga hanya berlaku di kegiatan bisnis. tapi di kehidupan sehari-hari juga. bahwa setelah ada kesulitan akan timbul kemudahan.

3. tingkat kemalasan
ini sih faktor internal dan yakinlah cuma diri kita sendiri yang bisa ngehandle. saya orang nya pantang kalah, jadi ya step pengerjaan skripsi saya ga jauh beda sama teman-teman pintar saya di kampus. intinya, tentukan aja sih apa motivasi terbesar kenapa musti ngerjain skripsi. jawabannya buat saya cuma satu: orang tua.

dengan motivasi itu, saya bagi waktu antara kuliah dan pengerjaan skripsi. tugas kuliah yang amuk-amukan dan skripsi yang deadline nya tak ada batasannya untuk jangka pendek. alhamdulillah keduanya selesai dengan nilai yang memuaskan.

disamping itu, faktor yang menyebabkan kemalasan itu ya.... waktu main. hampir 4 bulan waktu saya dari pagi sampai sore saya habiskan di jurusan. nungguin dosen pembimbing, ngolah data ataupun cari referensi buat skripsi saya.

jadi percayalah, risk and return itu berlaku teman-teman.

***
saya pahami sifat dasar manusia itu suka menyalahkan atau mengambinghitamkan hal lain. susah mengakui kesalahan sendiri. saya pun begitu. tapi ya intinya balik lagi ke introspeksi diri. bahwa orang lain atau sesuatu juga ga bakal salah kalau penyebabnya bukan dari diri kita sendiri kan?

i share what i've done. i'm not judging guys ;)

Sunday, 2 March 2014

Thesis and Bachelor Degree.

12:29 0 Comments
I'm telling you about how i can reached my bachelor degree.

August 2013
Searching for the right title for my thesis proposal.

September 2013
Submited my thesis proposal and i got my best thesis advisor. She really helped me on doing this holy thesis. Never imagine that i could finish my thesis in 3.5 months.

October 2013
My thesis advisor gave me a challenge to add a new variabel that never been done in research. It's hard a little because it couldn't fit on my research's object.

November 2013
I've finished my thesis over all. Waiting for some revision by my thesis advisor. I have some trouble on this month. I was on the bad step. I couldnt believe in anyone. Yes, anyone.

December 2013
I was doing great. I helped my boyfriend in his study. I finished my thesis and did seminar on December 24th.

January 2014
There's always a great reward from Allah when you're doing something seriously. I reached my bachelor degree on January 27th
When you want to reach something, you dream, and then you believe. Dont let yourself on laziness. Forget what people said about negative words about you. They dont know you that much. They dont know how hard the process was.

Things about thesis and bachelor degree:
1. I didnt hang out with my boyfriend since september. You have to choose what's your priority for sure. If you are good at balancing, then do what you wanna do. But, i was not. 
He was supporting me by sat next to me while i was doing it. He came to my house suprisingly.e listened to my dilemmas about thesis. It's more than enough.

2. Always doing thesis every weekend while you're studying for your college on weekdays. Never stop. Never let your mood ruin your thesis. Never.

3. The worst enemy for thesis is laziness. If you on it, remember that you want yourself to reach bachelor degree as soon as possible. Remember you want to make your parents proud of you.

4. Meet your thesis advisor every time you see her. Ask her everything about your thesis. If you're afraid to meet your thesis advisor, it will be take too much time to finish it.

Wednesday, 29 January 2014

I'm no longer a college student. Now, i'm a jobless

06:14 0 Comments
Sudah 43 jam semenjak saya dinyatakan sebagai Sarjana Ekonomi melalui ujian komprehensif. Kalo ada yg nanya apa rasanya, sesungguhnya ga ada yang beda. Tapi kalo dipanggil pake sebutan SE, rasanya semua masih mimpi. Did i do it? Yes, i did :")

Masih seperti ujian komprehensif pertama, mental saya di banting" sama ketua tim penguji. Ga bohong kalo waktu berhadapan sama bapak itu air mata mau mengucur deras dan rasa dendam muncul lagi. Keluar ruangan masih nangis. Ngerasa bapaknya jahat karna nyalahin semua jawaban padahal pertanyaannya apa yang udah didiskusiin bareng-bareng selama persiapan kompre.

Ga beberapa menit setelah keluar ruangan, disaat curhat sama abang-abang lainnya sambil beruraikan air mata, saya dipanggil lagi sama dosen penguji yang lain. Kali ini disuruh barengan masuk sama bang angga. Bang angga lagi ditoilet, dan waktu keluar toilet, saya ngeliat matanya merah semacam habis nangis. Mungkin mental kami sama-sama dibanting di depan ketua tim penguji.

Jeng jengggg
Kami berdua masuk ruangan dengan tampang suram, disuruh duduk sebelah"an. Semua pertanyaan direview sama ketua tim. Demi Allah saya sudah pasrah bahkan saya sudah membatin "kalau harus wisuda Mei juga ga apa-apa". 

Pertama, bang angga dulu yang disebutin hasilnya. Bang angga lulus dengan nilai minimal. Kemudian, baru hasil saya. Ipk disangkut-sangkutin, memang ipk saya lebih tinggi dari bang angga dan bapak itu meminta pertanggungjawaban yang lebih besar. Tapi, setelah bapak lagi-lagi membanting mental saya, kemudia bapaknya bilang saya lulus dengan nilai minimal juga.

Hening. Saya tidak percaya saya lulus. Lulus dalam artian kata ada gelar Sarjana Ekonomi di belakang nama saya semenjak itu. Alhamdulillah. It feels wow at that time!!!

Dan sekarang saya masuk ke fase baru kehidupan. Menjadi pengangguran dan mulai mencari lapangan pekerjaan atau mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah.

Bukan krs lagi yang saya urus, tapi wisuda
Bukan strategi kuliah lagi yang saya pikirkan, tapi kehidupan berikutnya

Saturday, 21 September 2013

Syarat Sakral

16:49 0 Comments
gue mahasiswa tahun akhir dan emang punya target buat men-'DO'-kan diri secepatnya dari kampus. tanggal 2 September gue udah ngajuin proposal skripsi ke jurusan dan tanggal 4 gue udah tau pembimbing gue. perasaan menunggu selama 2 hari itu? kalo lagi kepikiran, wajah seorang dosen killer terbayang di benak gue dan langsung gue tepis sama 2 wajah dosen yang baik. kalo lagi ga kepikiran, gue masih bisa anteng. alhamdulillah, pembimbing gue baik banget!

bimbingan pertama (Rabu, 11 September 2013)
sebelum ke kampus gue prepare dulu tentang bahan proposal gue. jadi kalo ditanya-tanya, gue bisa jawab. nyampe di kampus? menunggu. iya, apalagi kalo bukan itu yang gue lakuin? nungguin dosen nya selesai ngajar. kata om gue, nilai kesabaran buat bimbingan itu musti A+. kita musti mau nunggu berjam-jam cuma demi 10-20 menit bimbingan.

take a deep breath. and i'm in.

gue: buk, mau kenalan dulu. saya nilam, ibuk ditunjuk pak eva buat jadi pembimbing skripsi nilam. ini proposal sama surat permohonannya buk (nyodorin map)
dosen: oh iya, nilam bp berapa? (sambil buka map)
gue: 010 buk..
dosen: loh kok cepet? 
gue: hehe iya buk..

setelah basa-basi, gue diwawancarai sama ibuknya tentang proposal gue. apa hubungan antara tiap variabel independen dengan variabel dependen. kenapa periode penelitiannya itu, kenapa objek penelitiannya itu. gue jelasin semua tanpa cela. ibuknya manggut-manggut dan gue disuruh cari data penelitian. DATA PENELITIAN, BRO!!!! gue ga nyangka bisa secepat dan semulus ini!!!

dosen: nilam mulailah cari data penelitiannya lagi, siapa tau nanti datanya ga sesuai sama judulnya. ini proposalnya ibuk bawa ya
gue: iya buk..

UDAH GITU AJA BIMBINGAN PERTAMA GUE!!!
keluar dari kelas, gue ga berenti senyum. lega. dan hal buruk yang sempat terlintas, ga kejadian. alhamdulillah buat itu..

bimbingan kedua (20 Septembar 2013)
awalnya gue mau bimbingan tanggal 18, tapi belum data nya belum selesai. terus mau bimbingan tanggal 19, pas gue mau ke kelas ibuknya, kelasnya udah bubar. batal.
kebetulan banget, ibuknya jadi dosen penguji seminar skripsi yang gue tonton tanggal 20 itu. selesai seminar, gue langsung ketemu ibuknya buat ngeliatin data penelitian gue. trus gue jelasin kalo data 2 periode di variabel dependen belum dapat. trus ibuknya suruh lanjutin nyari dan bantu gue bikin contoh sample. hari senin gue disuruh menghadap lagi dengan data lengkap.

Allah, makasih banget buat pembimbing baik ini :")

sejauh ini, skripsi thing ini masih sweet banget. mungkin kalo proposal udah di ACC dan data udah mulai diolah, mungkit baru berasa lah gimana sakralnya skripsi kata orang-orang. atau semua bergantung ke pembimbing juga kali ya? :")

lalu hal terberatnya skripsi apa lam?
1. gue kurang tidur banget sejak data penelitian gue kumpulin
2. gue musti bisa bagi prioritas antara tugas dan skripsi
3. kehilangan waktu main
4. kehilangan quality time sama pacar dan make prinsip 'bebas-aktif' ala gue
5. ngerasain sahabat yang mulai jauh

dan buat syarat sakral ini, gue selalu percaya buat opportunity cost nya. yang pasti gue kehilangan point 1 2 3. point 4 dan 5? gue selalu berharap ga. tapi, kalo emang musti di opportunity cost-in juga, gue pasrah buat semuanya...

Monday, 16 September 2013

Jika Aku Menjadi

17:50 0 Comments
kali ini cerita tentang adik-adik baru saya di desa ini. beberapa hari di minggu ini, kami, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Jorong Padang Pulai, Nagari Balimbing, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat menghabiskan waktu bersama mereka. lalu apa istimewanya? mereka antusias. mereka senang ada kami disini. mereka terhibur. dan kami seolah-olah pahlawan mereka yang menyelamatkan mereka ditengah-tengah kekurangan, ditengah kesepian detik-detik penerimaan rapor, bahkan, ditengah-tengah kebahagian mereka yang serba terbatas.


selayaknya KKN ini semacam reality show 'Jika Aku Menjadi'. apa jadinya jika aku menjadi mereka yang hidup disela-sela kekurangan? apakah aku masih bisa mencapai apa yang telah aku capai selama ini? apakah aku bisa memiliki hampir apa saja yang aku mau? apakah aku bisa mengecap pendidikan hingga sarjana? apakah aku masih bisa bersyukur?

entahlah, jawabku. terkadang semuanya bisa karena terbiasa. mungkin saja aku bisa seperti mereka yang tidak lagi merutuki hidup yang serba terbatas. mungkin aku bisa seperti mereka yang masih bisa tertawa ditengah kepedihan hidup.

jauh dari sumber mata air bersih. sinyal susah. curah hujan kurang. infrastruktur tidak memadai. semuanya serba terbatas. tapi mereka masih bisa tertawa. mereka masih mempunyai semangat juang untuk terus bersekolah. mereka masih bisa menikmati hidup versi mereka.

teruntuk mereka yang mengajari aku arti lain dari sisi kehidupan. mereka, para bocah yang sibuk mengajak aku bermain. para bocah yang tak bosan-bosannya memanggil 'kak, kak, kak' sembari menarik tanganku. 

dari kalian, aku mengerti caranya menghargai hidup..

Sunday, 15 September 2013

Keterbatasan yang Tidak Menjadi Keterbatasan

16:28 0 Comments
Bola mata hitam bulat yang teramat jernih. Bola mata itu milik seorang putra desa yang tinggal di desa terpencil. Jauh dari sumber air bersih, sinyal, infrastruktur yang memadai, bahkan guyuran hujan.

Namanya Rayhan, biasa dipanggil Ihan. Dia anak laki-laki satunya. Ayahnya seorang kepala jorong tertinggal. Ibunya seorang petani. Panas terik matahari sudah jadi sahabatnya. Halaman rumah bertanah keras tempat bermainnya. Lantai yang hanya disemen seadanya menjadi kasur baginya dan ayah ibunya. Ruang tamu disulap jadi ruang keluarga jika siang. Ketika hari berganti malam, ruang tamu itu berubah menjadi kamar tempat Ihan menitipkan semua mimpinya.

Dia kerap kali melihatku terpana. Melihat baju yang aku kenakan berbeda dengan baju kumal yang membalut tubuhnya. Melihat tanganku yang tak pernal lepas memegang handphone ataupun kamera berbeda dengan tangannya yang tak lepas memegang kelereng. Melihat kakiku yang dialasi sepatu berbeda dengan kakinya yang langsung berinteraksi dengan tanah.

Namun, Ihan tidak tahu. Aku sering kali mencuri pandang kepadanya. Menikmati tawanya yang khas, tulus, dan lepas. Memamerkan barisan gigi susu yang rapi di gusinya. Menatap kebahagiannya dari larian kecil dia. Seakan-akan segala keterbatasan yang dia hadapi tidak pernah menjadi masalah berarti.

Melihat dan memperhatikan gerak-geriknya saja sudah membuatku damai. Tersenyum tanpa aku sadari. 

Ihan, kapan kita bertemu lagi? Masih ada pelajaran hidup yang ingin kakak petik dari Ihan..

Saturday, 14 September 2013

Selamat Ulang Tahun, Ma..

17:29 0 Comments
Dengan bertambahnya usiamu, masih bisakah aku membahagiakanmu, Ma? Masih bisakah aku mewujudkan mimpi-mimpi yang engkau buat untuk aku? Masih bisakah engkau melihat aku dan masa depanku? Masih bisakah tubuhmu menopang badanmu yang mulai ringkih? Masih bisakah, Ma?

Engkaulah pelita dalam gelapnya malam kami. Engkaulah matahari jika awan gelap menjajahi langit hati kami. Engkaulah kehangatan jika dingin menusuk tulang kami. Engkaulah bintang hati kami, Ma.


Selamat ulang tahun, Mama. Semoga keberkahan selalu ada padamu. Semoga lantunan doa di sembah sujudmu untuk keluarga kecilmu ini dikabulkan Tuhan. Semoga tak pernah terputus cinta di senyum indahmu, Ma. Kami mencintaimu..

Friday, 13 September 2013

Gerimis, Juni, dan Kita

17:02 0 Comments
Awan kelabu menyelimuti langit yang juga ikut-ikutan kelabu. Perlahan, air langit turun membasahi bumi. Senja mulai menyapa, menuruti panggilan masa. Bintang mulai datang menemani sang Bulan. Namun, awan tebal terlalu jahat untuk menunjukkan kisah mereka.

Gerimis malam itu menemani langkahku dan temanku di awal bulan Juni. Ku cepatkan langkahku agar bisa segera bertemu dengannya. Secercah semangat datang menyinariku, membuatku ingin segera melawan arus waktu.

Gerimis mungkin menangis haru melihat pengorbananku, melihat langkahku yang sempat tersasar di jalanan Cisitu. Merasakan kelembaban jilbab karena keringatku dan hangatnya jaket tak lagi mampu memelukku.

Wajahku menyimpulkan senyum bahagia tiap ku ingat dia. Entah sudah berapa lama sosok itu tak terlihat di depan mata dan saat itu aku siap mengulanginya lagi, berdiri di sampingnya. Merasakan dunia berhenti berputar dan hanya milik berdua.

Aku berdiri kaku di sudut jalan, termenung dengan reaksiku yang sebentar lagi akan bertemu dengannya. Senyum bahagia sulit bersembunyi dari wajah sedangkan gerimis masih setia menemani malam di awal Juni.

Gerimis, Juni, dan Kita
Mungkin itu kenangan terakhir yang aku punya tentangnya. Tentang cinta yang mulai lapuk tertaut jarak. Tentang cinta yang perlahan hilang dimakan waktu. Tentang cinta yang masih diselimuti janji.

Gerimis, Juni, dan Kita
Langit malam di awal Juni mungkin menangisi keadaan kita kini. Langit malam di awal Juni menjadi sahabat terakhir kita. Langit malam di awal Juni telah menyimpan memori bahagia kita. Langit malam di awal Juni bisikkan kepadanya, aku mencintainya....

Thursday, 12 September 2013

friendzone?

16:39 0 Comments
awalnya kalian saling kenal melalui hubungan 'teman'. lalu perlahan rasa itu menyeruak di hatimu. mencintainya dengan segala kekurangannya. mencintainya dengan cinta yang awalnya tak bisa ia balas. lalu kau mencuri semuanya dengan perhatianmu. kau curi tawanya dengan kekonyolanmu. kau curi tangisnya dengan ketidaktegasanmu. kau curi hatinya. dan kau curi pikirannya. tak sedetik pun dia tak mengingat dirimu.

kau buat ia berjanji dengan mimpi yang ia ciptakan sendiri, berlari menari di otaknya. setahun tak lama, dan ia akan kembali bersamamu. ya, ia kuat. anggap saja ia sedang cinta sendiri. dan kau tak pernah tau ada seorang gadis yang menyayangimu, memikirkanmu kemana pun dia pergi. bahkan ketika ilmu sedang berlari masuk ke otaknya, dia masih memikirkanmu. ya, semuanya tentang kamu.

tiba saatnya ketika kamu tidak menunjukkan kepedulian sama sekali. dia masih sabar. berusaha membaca pikiranmu dan tetap sabar dengan segala kemungkinan kegiatanmu. di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tau bahwa kau menyayanginya. dia tau bahwa kau mengingatnya. tapi, tahu saja tidak cukup. dia perlu diberitahu.

emosinya sedang berada di titik maksimum. hingga akhirnya dia menyerah dan menuruti pikirannya untuk menyerah dengan semua ini, walaupun hatinya masih terlalu kuat untuk menghadapinya saat kau terkesan tak menganggapnya ada. dia tersenyum ketika hatinya menangis. dia tertawa ketika pikirannya tak pernah lari darimu. dia hanya berusaha menganggap tak pernah terjadi apa-apa antara kau dan dia.

jadi, haruskah cerita kalian hanya sebatas friendzone? hanya karena dia takut kehilanganmu. dia takut kehilangan penyemangat hidupnya. dia takut tak ada lagi yang mendengarkan ceritanya. dia takut mimpinya bersamamu tak pernah terwujud. dia takut kau tak pernah lagi disisinya. 

haruskah zona aman itu bernama friendzone? ketika tak perlu merasa takut kehilangan dan merasa tersakiti?

Wednesday, 11 September 2013

Semuanya, untuk mereka.

18:19 6 Comments
Jika kamu bertanya apa motivasi aku untuk tetap menatap ke depan disaat-saat terpuruk, mereka jawabannya. Mereka tempat pulang yang nyaman. Tempat aku menjatuhkan air mata ketika semua tidak berpihak lagi kepadaku. Tempatku tertawa terpingkal-pingkal tanpa perlu merasa dibilang aneh. Semuanya tentram, aman, dan damai.

Mama. 
Seorang wanita muda yang dulu rela merasakan susah senangnya mengandung janin yang kini menjadi aku. Seorang wanita muda yang rela merasakan rasa sakit yang teramat sangat ketika aku meminta untuk menghirup udara dunia. Seorang wanita muda yang rela membagi waktunya untuk merawat dan membesarkanku dengan dunia kerjanya. Seorang wanita paruh baya yang kini sudah mulai wajahnya dihiasi keriput karena anaknya itu sudah menginjak usia 20 tahun. Seorang wanita paruh baya yang hangat pelukannya tak ada tandingannya di dunia ini. Mama, malaikatku.

Papi.
Seorang pria yang beruntung karena telah mempersunting mama untuk menjadikannya pasangan hidupnya hingga maut memisahkan. Seorang pria yang rela membanting tulang untuk kami, keluarganya. Seorang pria  yang tidak banyak bicara dan tidak terlalu banyak tawa di wajahnya. Seorang pria yang selalu menjagaku dan adikku tanpa kami ketahui secara langsung. Seorang pria yang tak pernah bisa berkata tidak untuk permintaan bidadari-bidadarinya ini. Seorang pria yang petuah-petuahnya selalu benar. Seorang pria yang selalu menjadi 'pacar' terbaikku. Papi, pahlawanku.

Iya, adikku.
Seseorang yang dulu kehadirannya ku nanti. Seseorang yang telah lebih banyak merasakan pahitnya kehidupan daripada aku. Kata mama, aku tak ingin beranjak dari rumah sakit tempat adikku dilahirkan karena aku ingin selalu berada di sampingnya. Seseorang yang menjadi teman bermain. Seseorang yang selalu suka 'ngajak ribut'. Seseorang yang sering aku usili. Seseorang yang kini beranjak dewasa dan sudah bisa diandalkan untuk menjadi sahabat yang baik. Adikku, lawan terberatku dalam berargumen.

Mereka pelengkapku. Mereka tempatku mengadu. Dan mereka alasan aku untuk meraih pencapaian-pencapaian yang telah aku raih. Mereka alasan pertama kenapa aku ingin segera menyelesaikan studi di bangku perkuliahan. Mereka alasan kenapa aku ingin segera bekerja. Mereka alasan kenapa semua mimpi-mimpi itu harus segera aku wujudkan.

Teruntuk mama, papi, dan iya, usaha ini untuk kalian. Sesuatu yang bernama skripsi yang menjadi salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana Ekonomi.

Tuesday, 25 June 2013

jika aku menjadi

15:39 0 Comments
kali ini cerita tentang brondong-brondong saya di desa ini. beberapa hari di minggu ini, kami tim kkn padang pulai menghabiskan waktu bersama mereka. lalu apa istimewanya? mereka antusias. mereka senang ada kami disini. mereka terhibur. dan kami seolah-olah pahlawan mereka yang menyelamatkan mereka ditengah-tengah kekurangan, ditengah kesepian detik-detik penerimaan rapor, bahkan ditengah-tengah kebahagian mereka yang serba terbatas.


selayaknya KKN ini semacam reality show 'jika aku menjadi'. apa jadinya jika aku menjadi mereka yang hidup disela-sela kekurangan? apakah aku masih bisa mencapai apa yang telah aku capai selama ini? apakah aku bisa bertubuh gemuk dan memiliki hampir apa saja yang aku minta? apakah aku bisa mengelilingi beberapa kota di indonesia? apakah aku masih bisa bersyukur?

entahlah, jawabku. terkadang semuanya bisa karena terbiasa.mungkin saja saya bisa seperti mereka yang tidak lagi merutuki hidup yang serba terbatas. mungkin aku bisa seperti mereka yang masih bisa tertawa ditengah kepedihan hidup.

teruntuk mereka yang mengajari saya arti lain dari sisi kehidupan. mereka, para lelaki kecil yang sibuk mengajak saya bermain. para lelaki kecil yang tak bosan-bosannya memanggil 'kak, kak, kak' sembari menarik tanganku.

mungkin sifat keibuan aku mulai muncul. terima kasih, brondong saya..
Protected by Copyscape Duplicate Content Penalty Protection