Follow Me @nilamodang

Showing posts with label Narasi. Show all posts
Showing posts with label Narasi. Show all posts

Saturday, 19 January 2013

#6 sinar bulan

22:05 0 Comments
duduk di teras rumah di temani sinar bulan. hamparan langit luas berkelap kelip karna ulah para bintang. cahaya temaram, alunan nyanyian merdu serangga. ah, indah sekali.

kamu duduk di sampingku. duduk dengan tenang, melakukan hal serupa seperti yang aku lakukan. menengadahkan kepala ke atas, melihat kerlap-kerlip bintang.

tangan kokoh mu menggenggam tanganku. hangat. kamu mengajakku berdiri, lalu merangkulku. kamu mulai menggerakkan kakimu, mengajakku berdansa di tengah sinar temaram bulan. kau tersenyum, merengkuhku.

sedetik, dua detik aku nikmati. perlahan rangkulanmu melonggar. kamu masih saja tersenyum dan aku terpana. bingung. aku mencari-cari jawaban dari kedua sorot mata hitam jernih mu itu. kamu masih tersenyum. dan aku terpaku.

dadaku bergemuruh setiap kali kamu melihatku seperti itu. aku hilang akal setiap kali kamu tersenyum seperti itu. mungkin saat itu kamu bisa mendengarkan irama jantungku yang tak wajar. dan pastinya kamu merasakan tanganku yang sedang kamu genggam mulai dingin.


di bawah sinar bulan. senyuman hangat, tatapan sejuk, dan lengan kekar yang melindungiku melengkapi indahnya malam ini.

hamparan bintang. andai saja aku tak segan-segan mengatakan 3 kata sederhana itu. tapi sayangnya jantungku tak pernah kuat, aku selalu merasa malaikat maut berdiri di sebelahku, siap menampung jantungku yang akan segera lepas jika ku katakan 3 kata itu.

sinar bulan, kau akan menjadi saksi bahwa dia ada untuk melindungiku. memelukku ketika aku tak mampu bertahan dengan dinginnya dunia. mempercayaiku bahkan ketika aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri. melukiskan senyum indah di wajahku ketika kemurungan melanda hatiku.

sinar bulan, hamparan bintang, nyanyian serangga. malam yang sempurna.

Tuesday, 24 July 2012

Dia, yang tersimpan

18:16 0 Comments
Banyak yang seharusnya terucap, tapi dia memilih untuk tenang di dasar permukaan, membiarkannya mengendap bersama waktu.

Banyak yang seharusnya dilakukan, tapi semua tertahan, terkurung oleh waktu karna tak jua mengambil kesempatan.

Banyak seharusnya hal-hal yang menjadi nyata. Tapi dia tersimpan dalam satu album penuh imajinasi.

Dia, yang tersimpan.. Keruh dan lusuh. Menanti suatu waktu ketika semuanya terrealisasi dengan teramat sempurna..

Sunday, 20 May 2012

Tetap Melangkah

15:46 0 Comments
Langkah yang sempat terhenti itu kemudian melanjutkan langkahnya..

Seberapa hina dirinya di hadapan orang itu yang bahkan tak melihat dan merasakan keberadaan dirinya. Dia masih bersikeras untuk tetap menikmati setiap pemandangan yang terhampar. Entah itu kecuekan, keketusan, kesibukan, bahkan keterpaksaan. Kadang dia mengutuk dalam hati, lelah menghadapi yang seperti ini terus-terusan tapi entah apa yang membuatnya melanjutkan langkahnya..

Angin malam menggemeletukkan giginya. Dingin, sampai dia menggigil. Terasa sedikit kehangatan yang memeluknya. Ah, sudah ratusan hari dia tak merasakan kehangatan ini..

Darimana datang nya? Jauh di ujung sana terlihat setitik cahaya awal kesuksesan yang datang menjemputnya. Perlahan, satu per satu, apa yang dia inginkan tercapai..

Friday, 27 April 2012

Langit Senja

19:10 0 Comments
Matahari tergelincir di ufuk barat. Langit dihiasi lembayung senja. Jingga. Goresannya di langit tak menentu. Abstrak, seperti apa yang ku rasakan sekarang. Aku tak merasa gembira. Ada sedikit rasa hampa yang menyelimuti hati ini. Tak pula sesak karena masih ada sedikit udara yang memelukku. Ya, lukisan langit senja tak sama seperti lukisan yang menari-nari di otakku.

Si planet merah sudah menampakkan wujudnya. Di sampingnya tampak si bulan telah mempersembahkan senyumannya yang paling indah untuk insan-insan di bumi malam ini. Aku terdiam melihatnya. Aku tak membalas senyumannya. Hanya menatapnya dengan tatapan kosong dengan sejuta pemikiran yang harus segera aku limpahkan.

Satu persatu bintang mulai berani menyapaku. Tapi aku masih tetap diam. Seolah-olah tersirat kebencian dari sudut mataku...

Ingin rasanya aku menangis di bawah hamparan langit senja. Mengadu. Merintih. Tapi aku masih tetap diam. Aku memaki diriku. Mencabik remuk semua egoku. Membunuh si pengalah. Kemudian aku diam. Diam. Diam. Diam. AKU CUMA BISA DIAM! Aku tak bisa membuka mulutku untuk mulai berucap. Aku tak bisa menjatuhkan air mata karena tertahan di kelopak mata. Aku tak bisa meluruskan benang kusut ini.

Tak adakah yang mau mengerti ada apa sebenernya denganku? Tak adakah yang mau meluangkan sedikit waktunya untuk mendengarkanku. Tak adakah yang mau meminjamkan tubuhnya untuk aku peluk?

Langit senja mulai menghilang, berubah dengan hamparan langit kelabu. Si jingga segan dengan sang raja malam. Dia pamit, dan aku masih tetap diam, menatapnya pergi...

Thursday, 26 April 2012

Dia dan Bintang

12:40 0 Comments
Matanya menatapku nanar, seakan-akan ada kesedihan yang dia tutupi tapi tetap berusaha keras untuk tersenyum. Ya, dia mengubur rapat kenangan masa lalunya dengan senyuman yang tersungging itu. Dia terlihat senang dengan kehadiranku dan tak berhentinya merangkul tanganku. Ada saja yang dia bicarakan. Entah itu tentang cerita awal dari semua masa depannya atau gerbang masa depan yang akan dia tuju. Sekali dua kali dia tertawa mendengarkan omonganku yang terkesan kurang berbobot. Tapi dia senang, terlihat dari tatapan teduhnya.

Aku datang dari kehidupan masa lalunya. Bukan aku tokoh utamanya. Aku hanya sekedar figuran pelengkap cerita. Mungkin kalau aku jadi dia, aku tak akan pernah mau untuk menemuiku. Setidaknya aku menghindar agar luka lama itu tak mencuat lagi ke permukaan. Tapi aku tau dia berbeda. Dia gadis yang hidup dengan segala kerendahan hati.

Dia terlihat cantik hari ini. Dandanannya bak ratu. Ya, hari ini mau tak mau, suka tak suka dia harus menjadi ratu. Setidaknya untuk dia sendiri. Bahkan dandanannya menunjukkan kesederhanaan yang ada pada dirinya. Bagiku, dia tetap yang paling cantik diantara para ratu disana.

Aku senang mendengarkan orang-orang bercerita tentang hidupnya, tak terkecuali dia. Senyum tak lepas dari wajahnya setiap dia bercerita. Tak secuil pun dia bertanya tentang masa lalunya dan aku juga tak ingat bahwa masa lalunya ada di sekitarku. Kami hanya menikmati waktu yang kita punya. Aku menganggap dia sebagai seorang adik dan dia menganggapku sebagai seorang kakak.

Andai saja masa lalunya itu masih menjadi masa sekarangnya. Aku tau, semakin beruntun doa yang aku panjatkan, semakin kagum diriku melihat mereka. Namun kini, aku masih mengucap lirih doa itu. Karna ku yakin, masa lalunya masih ingin menjadi bintang di masa depannya. Setidaknya itu yang benar-benar aku harapkan.

Saturday, 14 April 2012

dia

21:23 0 Comments
Dia mencoba memberikan obat luka kepada luka yang telah kamu ciptakan. Aku menolaknya dengan halus. Aku bilang, 'dia pasti membalut luka yang telah dia ciptakan ini dengan perbannya'. Kemudian dia tersenyum hambar, seakan-akan menolak pernyataanku bahwa kamu akan bertanggung jawab dengan semua ini. Dia bilang, 'obati dulu dengan ini, baru bisa kamu baluti dengan perban miliknya'. Aku tersenyum, 'biarkan saja dia membekas, agar dia ingat bahwa dia selalu ada disini. Aku tak pernah ingin mengubah tahtanya disini. Aku ingin dia menjadi yang pertama.'

Aku percaya kamu seorang yang bertanggung jawab dan terlihat bijaksana dengan ucapan yang telah kamu pegang. Semua hanya butuh waktu. Terserah mereka yang ingin tertawa. Terserah mereka juga untuk memasang tampang iba melihat tubuhku yang penuh dengan memar. Ya, menurut ku semuanya hanya perkara waktu.

Dan pada akhirnya dia pergi, menyerah atas kekeraskepalaanku, mengumpat atas kebodohanku, tertawa miris menutupi kepedihan kenyataan yang telah aku pilih. Aku tersenyum lega melihat punggungnya berjalan menjauh, lalu senyum itu menghilang. Berganti dengan tanda tanya besar di kepala, 'kapan kamu akan datang membawakan perban yang aku butuhkan?' kemudian aku mendengar bisikan lembut yang entah datang darimana, 'secepatnya..'


-AF-
Protected by Copyscape Duplicate Content Penalty Protection